Ya

Buku itu jendela dunia

Dunia

Aneka pemandangan dengan dinamikanya

Dinamika

Yang membuat dunia ini bergerak

Gerak

Kunci mewujudkan setiap eksistensi

Eksistensi

Tempat makna dan kehormatan berlabuh

Showing posts with label Odios. Show all posts
Showing posts with label Odios. Show all posts

Monday, May 11, 2009

Hole in One Bagian 8 (Akhir)

Oleh Odios

WIMPIE memerintahkan orang suruhan Tuan Yulio agar membawa bungkusan uang pada pukul 09.30 di dekat tempat sampah yang ada di lokasi Pondok Indah Mall. Persisnya lokasi akan diberitahu kemudian. Orang suruhan itu harus membawa HP agar bisa menerima instruksi secara benar.

Tugimin melakukan sesuai petunjuk si pemeras. Tuan Yulio juga sudah wanti-wanti agar Tugimin tidak membuat ulah sehingga si pemeras marah. Tugas utamanya adalah meletakkan bungkusan di dekat tempat sampah.

Sungguh tak terduga jika diam-diam Tuan Yulio menceriterakan ikhwal yang menimpanya kepada Shelly. Shelly begitu kaget dan instingnya pun langsung memberitahu, bahwa peristiwa semacam itu sepertinya ada hubungannya dengan seseorang yang sedang sakit hati atau jengkel, sekaligus punya bakat kriminal. Meskipun hanya dalam hati, Shellly berkeyakinan bahwa dalang pelaku di balik semua itu tentu tak jauh dari Wimpie.

Shelly mencoba menelepon polisi, tapi tiba-tiba baterei HP-nya putus. Ia bingung. Mau charge baterei ia tak sabar. Akhirnya ia bergegas naik taksi menuju ke Pondok Indah Mall. Malang, jalanan macet. Berkali-kali ia melihat arloji dan khawatir anak buah Wimpie sudah mengambil bungkusan uang kiriman Tuan Yulio.

Ternyata Shelly masih belum terlambat. Batas waktu yang ditentukan penculik belum habis. Shelly berjalan dengan bergegas sambil mencari-cari seseorang yang sedang menelepon pakai HP. Namun, tiba-tiba ia dihambat oleh serombongan laki-laki tak dikenal. Orang-orang itu mengaku utusan Tuan Yulio. Shelly tak berpikir panjang, lalu mengikuti saja ajakan mereka.

Malang Shelly, ia ternyata dibawa ke tempat parkir dan dibawa ke sebuah mobil yang dikenalnya. Di dalamnya sudah menunggu Wimpie. Shelly ditarik masuk ke dalam mobil tanpa sempat memberikan perlawanan. Wimpie sangat girang. Dengan sangat gesit, Wimpie membius Shelly. Shelly pun terkulai, tertidur di jok mobil.

TUGIMIN tampak dengan berdebar-debar menerima instruksi lewat telepon. Ketika ia hampir meletakkan bungkusan itu di dekat sebuah tong sampah, tiba-tiba dicegah dari telepon. Tugimin harus menunggu beberapa saat. Ia semakin tegang dan capek.

Ternyata, pada saat itu sedang ada dua satpam lewat. Rupanya satpam itu hendak masuk sebuah restoran. Telepon berdering lagi, Tugimin menyimak dengan seksama. Kali ini, ia dengan sangat hati-hati menaruh bungkusan berisi uang ratusan juta itu di dekat tong sampah. Ia pun berlalu seolah tak terjadi apa-apa.

Beberapa saat kemudian seorang laki-laki berjalan dengan hati-hati mendekati tong sampah. Sambil menoleh kanan-kiri, ia lalu menyambar bungkusan itu. Tepat pada saat itu, tiga orang laki-laki berpakaian sipil melingkari laki-laki pengambil bungkusan.

Rupanya mereka petugas yang menyamar. Dengan gesit laki-laki itu melemparkan bungkusan ke suatu arah. Ternyata beberapa orang lainnya sudah menunggu dan langsung membawa kabur bungkusan itu. Tiga petugas itu tak peduli, lalu memborgol salah seorang anggota pemeras dan menggiringnya ke sebuah tempat.

Sementara itu, Wimpie dan komplotannya yang berhasil membawa kabur bungkusan duit dan sekaligus Shelly yang masih terbius, tiba di sebuah tempat yang agak misterius. Walaupun senang mendapatkan uang, wajah mereka tampak tegang, karena salah seorang yang tertangkap itu bisa saja menjadi pemicu terbukanya kedok Wimpie Cs.

Ketika bungkusan itu dibuka, mata mereka semua melotot. Satu persatu tak percaya, lalu menggosok-gosok matanya berkali-kali. Duit lima ratus juta itu ternyata cuma omong kosong. Cuma guntingan kertas. Bahkan tak seperak pun ada duit asli di dalamnya. Bahkan di dalam guntingan kertas itu ada secarik kertas dengan tulisan spidol mencolok:

HEI WIMPIE, KAMU KIRA GUE BEGO, YA?
TRIK FOTO BEGITU UDAH BANYAK DAN LAGI
GUE PUNYA KOLEKSI FOTO BEGITU DI RUMAH.
MANA MUNGKIN BINI GUE PERCAYA?

DAN APA ENTE LUPA, GUE SANGAT HAPAL
SAMA ENTE PUNYA SUARA. GUE UDAH REKAM
SEMUA DAN ITU BISA JADI BARANG BUKTI DI
PENGADILAN.

TTD.
YULIO

Wimpie tampak jadi lemes tapi juga marah bukan kepalang. Sejenak ia memandang wajah Shelly yang masih tertidur pulas. Ia lalu memerintahkan semua anak buahnya bubar dan tidak nongol dalam lima bulan. Ia sendiri, kalau perlu harus ngumpet di luar negeri beberapa bulan. Semuanya berantakan dan sudah tercium polisi.

SHELLY terbangun dengan kepala terasa agak pening. Ia melihat keadaan sekeliling dengan heran bercampur ngeri. Tetapi mengapa keadaan begini sepi? Apa yang terjadi padanya?

Shelly melihat bungkusan di atas meja, melongok isinya dan menatap dengan heran. Rupanya Tuan Yulio bukan orang sembarangan, pikir Shelly. Ia punya banyak kaki tangan dan akal. Shelly tersenyum dalam hati. Shelly bergegas pergi dengan cara berjalan kaki, karena lokasi tempat itu agak jauh dari jalan raya. Seorang pengojek lewat, Shelly pun naik dan menyebutkan sebuah tujuan.

Sementara itu, Tuan Yulio tampak sedang sibuk di kantor. Ada bertumpuk-tumpuk dokumen dan surat yang harus dia tanda tangani. Tugimin masuk dan memberitahu kronologi peristiwanya. Tuan Yulio ketawa terbahak-bahak. Tapi ketika ia menanyakan di mana Shelly, Tugimin hanya menggelengkan kepala.

Tuan Yulio lalu memanggil tiga orang "andalan"-nya. Mereka menghadap dan memberitahu bahwa salah seorang anak buah Wimpie masih diurus di suatu tempat yang rahasia. Tuan Yulio meminta agar anak buah Wimpie itu ditanyai, di mana markas mereka sebenarnya. Begitu ketiga orang itu mundur dari hadapan Tuan Yulio, tiba-tiba telepon berdering. Ternyata dari Shelly. Tuan Yulio sangat gembira. Ia meminta Shelly menunggu di sebuah restoran yang jadi langganan mereka. Tugimin tanggap apa yang harus dilakukan.

Sementara itu salah seorang yang diringkus tiga orang berpakaian sipil, dan memang benar-benar orang sipil itu, ditanyai tanpa ancaman apa-apa. Dengan suka rela ia mau memberitahu asal dilepas dan tidak dipenjarakan. Belum sempat mereka memberi jawaban, telepon genggam mereka berdering. Ternyata dari Tugimin, yang memberitahu Shelly dalam keadaan baik dan sudah ditemukan.

Dengan perasaan geli tiga orang berbadan tegap itu melepas tawanan itu. Ia dilepas dengan hanya memakai celana pendek, kaos singlet, tanpa alas kaki dan uang lima ratus perak. Diserai "warning" kalau macem-macem di kemudian hari, bakal diserahkan ke kantor polisi betulan. Orang itu lari tunggang langgang. Dan ketiga orang itu menatap mereka dengan terbahak-bahak. Stop motion! (Ketemu lagi kapan-kapan, ye!)

Tuesday, April 28, 2009

Hole in One Bagian 7

Oleh Odios


TUGIMIN SEDANG ngobrol dengan Kosim, tukang kebun. Soal sehari-hari. Kosim menanyakan apa benar kalau Tugimin juga disuruh main golf, olahraga yang sangat prestisius dan hanya bisa dilakukan orang-orang berduit, Tugimin mengangguk sambil malu-malu. Kosim kaget, mujur benar nasib Tugimin. Kosim menanyakan apa sih asyiknya main golf. Persis main gundu, jawab Tugimin. Kita sangat senang kalau bola bisa masuk lubang. Kosim kaget, "Hanya soal memasukkan bola ke dalam lubang? Ah, kalau cuma itu ngapain musti mahal ongkosnya? Bego benar ya, orang-orang kaya itu," kata Kosim dalam hati.

Tiba-tiba Tukinem berteriak dari ruang dalam ke arah Tugimin. Tuan Yulio telepon Tugimin dari Singapura. Tugimin buru-buru masuk dan ia diminta menjemput di bandara Cengkareng karena dua jam lagi, Tuan Yulio sampai. Sementara itu, di sebuah restoran, Shelly duduk berhadapan dengan Wimpie. Wajah Shelly tampak kusut dan agak stres. Wimpie berkali-kali mengajak ngobrol dan membujuk-bujuk, tapi Shelly tetap diam seribu basa.

Beberapa saat kemudian, Tugimin dan Tuan Yulio tampak memarkir mobil dan singgah di restoran itu. Tuan Yulio sangat kaget waktu melihat Shelly, tapi ketika ia tahu Shelly bersama seseorang, Tuan Yulio segera mengendalikan diri. Apalagi wajah Shelly tampak kurang bergairah. Tuan Yulio membisiki Tugimin agar mencari tahu, siapa cowok yang bersama Shelly itu. Tugimin dengan gesit menanyakan ke pelayan, dan pelayan yang memang sudah hapal pada langganan memberitahu bahwa Shelly bersama pacarnya. Tampaknya mereka sedang ada masalah. Soalnya Shelly pasang aksi diam.

Shelly memang tidak tahu kalau Tuan Yulio dan sopirnya ada di situ, namun ketika Tuan Yulio dan Tugimin sengaja bicara agak keras dan ketawa-ketawa, Shelly jadi menoleh, dan ia sangat senang begitu melihat kedua orang itu ada di situ. Ia bahkan, buru-buru berdiri lalu menyongsong Tuan Yulio. Melihat itu, tentu saja Wimpie sangat marah. Ia memanggil pelayan dan mengatakan ia mau traktir semua yang hadir di situ. Tentu saja pelayan hanya pura-pura tersenyum sambil mengangguk. Wimpie ngoceh tak karuan lalu melemparkan sejumlah uang ke atas meja lalu keluar dengan langkah angkuh. Shelly pura-pura tak menggubris dan ia justru pasang aksi makin mesra di hadapan Tuan Yulio. Tentu saja Tuan Yulio jadi jadi makin kebat-kebit.


SEBELUM berangkat ke Batam, Singapura atau Malaysia, Tuan Yulio minta dilatih main di lapangan golf Jakarta. Shelly ikut saja. Mereka sudah tampak sibuk sejak dini hari.

Waktu latihan akan dimulai, Tuan Yulio tiba-tiba berubah pikiran. Ia melihat para caddies dan ingin tahu lebih banyak soal mereka. Iseng-iseng Tuan Yulio mengajak ngobrol, akhirnya bergurau. Timbul pemikiran Tuan Yulio, "Saya dengar kalian punya lelucon-leluon menarik, bagi-bagi dong. Entar yang paling bagus, Bapak kasih hadiah menarik deh. Kalau perlu seluruh caddy yang ada di sini, suruh ikut. Oke?"

Tak terduga, arena itu sudah berubah menjadi lomba melucu di antara para caddy. Shelly pun ikut duduk-duduk santai dan ketawa-ketawa.

Setelah lomba melucu, mereka juga diberi kesempatan memperagakan kemampuannya memukul bola (di tee box). Hasil "penjurian" semua yang telah membawakan joke dianggap lucu dan berhasil, masing-masing berhak memperoleh hadiah sebuah cek bernilai 100 ribu perak. Begitu juga yang mengikuti lomba memukul bola, masing-masing dapat cek 100 ribu perak.

Usai acara, Tuan Yulio mengaku capek. Ia belum memukul sebiji-biji bola acan. Tapi ia mengaku lega dan gembira melihat kemampuan para caddies bermain golf sungguh penuh harapan. Tuan Yulio lalu mengatakan pada Tugimin agar mau serius berlatih, siapa tahu kelak bisa jadi pemain golf prof.

Agak malu-malu, Tuan Yulio menanyakan pada Shelly, sudah berapa lama kenal Wimpie, si cowok? Shelly hanya mengangkat bahu. Lalu membelokkan ke cerita lain. Lalu menanyakan perkembangan Tuan Yulio, terutama sejak berlatih golf, apa masih dihinggapi penyakit bosan. Tuan Yulio pun nyeletuk spontan, "Apa, bosan? Itu jelas urusan masa lalu."


KEJENGKELAN Wimpie makin menjadi-jadi; terutama, sejak peristiwa di restoran beberapa waktu lalu. Ia menjadi sangat "mendendam" pada orang tua yang tiba-tiba dimesrai Shelly. Ia lalu mengumpulkan semua anak buahnya untuk mencari tahu, siapa laki-laki tua yang sudah bosan hidup itu?

Dalam waktu singkat, "file" mengenai Tuan Yulio dapat sudah. Lengkap dengan jadwal dan kegiatannya. Wimpie lalu membagi tugas, agar di antara anak buahnya ada yang menyamar menjadi fotografer, pelayan atau tukang pos atau apa pun yang bisa menembus ke jantung aktivitas Tuan Yulio.

Salah seorang "fotografer"-nya berhasil mengambil beberapa adegan/wajah baik Tuan Yulio maupun Shelly. Foto-foto itu langsung diproses dengan scanner untuk dilakukan mix gambar, sehingga dapat menghasilkan adegan yang heboh antara Tuan Yulio dan Shelly. Selesai proses scanning lalu diproses sparasi warna. Hasilnya, sungguh sangat heboh. Di situ terlihat Tuan Yulio tengah bermesraan dengan Shelly dalam keadaan satu selimut berdua.

Gambar heboh itu pun segera dikirim ke Tuan Yulio. Langsung ke tangannya. Di situ tertulis, tunggu instruksi berikutnya. Lalu terdengar suara telepon. Tuan Yulio mendengar suara orang yang mengancam, jika dalam waktu dua puluh empat jam tidak mengirimkan duit sejumlah 500 juta, maka foto itu akan dikirim langsung ke tangan istri Tuan Yulio. Kalau perlu ke pers atau televisi agar disiarkana langsung. Dan tidak boleh mencoba-coba menghubungi polisi atau petugas lain, akibatnya bisa gawat.

Tuan Yulio tentu saja makin panik saja. Apalagi ia memang pada dasarnya tergolong anggota ASTI (Asosiasi Suami Takut Istri). Tanpa pikir panjang ia menyanggupi akan menyediakan tuntutan pemeras yang sontoloyo itu asal benar-benar tidak memberitahu istrinya. Sementara itu, Wimpie justru punya pikiran lain, ia bisa menjadikan Tuan Yulio sebagai "ladang rezeki" dengan cara memeras setiap saat ia butuh uang. Aha!

Thursday, April 16, 2009

Hole in One Bagian 6

Oleh Odios


TUAN YULIO sedang mengadakan meeting dengan para direktur. Tiba-tiba sekretaris menyela dan memberitahu lewat bisik-bisik bahwa ada telepon dari seorang wanita bernama Shelly. Tuan Yulio agak surprise, lalu meminta izin hadirin untuk sesuatu yang sangat penting. Hadirin hanya saling pandang. Tidak biasanya Tuan Yulio melakukan itu, kalau tidak benar-benar luar biasa.

Shelly menelepon bahwa ia tampaknya hampir setuju soal penawaran Tuan Yulio untuk berlatih golf di beberapa tempat seperti Batam, Malaysia atau Singapura.

Tuan Yulio tampak sangat cerah wajahnya. Ia meminta Shelly untuk memantapkan persiapan sehingga tidak perlu lagi ada istilah "hampir setuju". Yang ada ya, setuju sekali.

Baru saja selesai berbincang dengan Shelly, tiba-tiba sekretaris datang lagi dan memberitahu ada telepon dari Tuan Cipta, salah seorang sahabat Tuan Yulio dan sama-sama bertitel pengusaha sukses. Isi pembicaraan Tuan Cipta mengajak pergi ke luar negeri untuk satu urusan yang sangat vital. Dan Tuan Yulio juga melihat bahwa itu tak mungkin bisa ditunda-tunda lagi.

Sementara itu, Shelly sedang berbicara dengan Wimpie di telepon. Wimpie mula-mula membujuk agar mau memaafkan dia, karena soal pil itu cuma latah dan bukan kebiasaannya. Shelly tetap belum bisa mengerti. Tapi akhirnya, sifat asli Wimpie muncul, ia tak sabar lagi dan marah-marah, mengapa Shelly menolak diajak ngobrol agar bisa ia memberi pengertian.

Tuan Yulio menyuruh Tugimin agar menelepon Shelly dan memberitahu agar Shelly mau menunggu beberapa minggu karena ia harus ke luar negeri dengan kolega bisnisnya.

Shelly agak kaget mendengar telepon dari Tugimin. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah Tuan Yulio tahu kalau ia sedang sedikit ada masalah? Sayang sekali kalau kontraknya dengan Tuan Yulio sampai batal. Gede bayarannya.


Suatu hari, tampak Shelly sedang berbincang dengan salah seorang CEO top, Tuan Jaya, di resto sebuah lapangan golf, Jakarta. Mereka tampak sangat asyik ngobrol. Sesekali tampak Shelly ketawa terpingkal-pingkal. Rupanya Tuan Jaya banyak punya koleksi joke dan ia berhasil membawakannya dengan baik.

Tak lama kemudian beberapa eksekutif lain, sekitar tiga-empat orang ikut bergabung dalam satu meja. Ganti-berganti mereka menceriterakan joke-joke yang mereka miliki. Dan Shelly benar-benar dapat menjadi pendengar yang aktif. Ruangan itu benar-benar menjadi arena joke telling yang cukup gayeng.

Di luar dugaan, Wimie dan tiga orang temannya datang ke tempat itu dan Wimpie tampak menunjukkan wajah agak seram. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Wimpie langsung menggaet lengan Shelly dan menggelandangnya ke mobil mereka. Beberapa eksekutif yang melihat adegan itu tak dapat berbuat apa-apa, karena mereka pikir cowok Shelly lagi cemburu. Dan lagi itu urusan intern mereka.

Sementara itu, Tugimin tampak sedang menjemput Nyonya Bos di arisan ibu-ibu. Di jalan Tugimin tampak ngoceh tak keruan. Ia bingung melihat kehidupan orang-orang sukses. Meeting, deal, lobi, transaksi dan lain-lain istilah yang tiap hari bersimpang siur di telinganya. Ia sangat geli melihat itu semua. Tapi, begitu ia melihat dirinya sendiri, ia juga makin geli.

Di perjalanan, Nyonya Bos tampak berusaha memancing-mancing info perihal "rahasia" di balik sepak terjang Tuan Yulio selama mengikuti latihan golf. Tapi Tugimin sama sekali lebih lihai dan ia tak bisa dijebak atau disogok sekalipun.

Di rumah, Tukinem menanyakan pada Tugimin, apakah ia serius soal yang di bioskop itu. Tugimin bilang ia sangat serius, tapi tidak lalu langsung kawin, karena kalau kawin sekarang, saatnya belum tepat. Tugimin tampaknya masih punya kewajiban untuk menyekolahkan adik-adiknya yang ada di desa sampai mereka lulus. Tukinem agak kecewa mendengar itu, tapi ia juga tidak bisa langsung menyalahkan Tugimin.

Tugimin tampak iseng memainkan club dan mendorong bola ke arah lubang di lapangan mini salah satu ruang Tuan Yulio. Ia mengaku mendapat tugas untuk mencatat dan mempraktekkan setiap instruksi dari pelatih. Karena itu, berkali-kali ia membaca petunjuk yang diberikan pelatih, dan ternyata memang tidak gampang. Apalagi memasukkan ke lubang. Tukinem melihat ulah Tugimin dari balik dinding dan tersenyum geli waktu melihat Tugimin selalu gagal memasukkan bola ke dalam hole.

Tuesday, April 7, 2009

Hole in One Bagian 5

Oleh Odios

DI RUMAH, Shelly tampak gelisah. Ia tiduran di kamar apartemennya sambil mendengarkan musik, tapi tetap saja gelisah. Ia sedang bimbang. Ia mencoba menelepon sahabatnya, Neny, lalu menceritakan soal tawaran seorang pengusaha top yang keinginannya agak menyimpang dari jalur prof.-nya. Neny hanya ketawa ngakak sambil mengatakan, "Coba dibalik: TONY". Shelly tak paham. Ia coba mencoret-coret di kertas TONY, lalu: YNOT. Lalu mengeja Why...Not? Shelly ketawa, mengapa tidak?

Telepon berdering, Wimpie, pacar Shelly, lima belas menit lagi mau menjemput untuk mengajak makan malam. Shelly mengatakan agak malas keluar. Wimpie mengatakan ada sesuatu yang penting yang ingin ia katakan pada Shelly. Shelly hanya mengatakan, "O ya?".

Di mobil dalam perjalanan Wimpie dan Shelly, Shelly tampak kurang bergairah. Ia hanya menatap ke depan dengan perasaan hampa. Wimpie mencoba cerita, bahkan yang dianggapnya lucu, tapi Shelly sama sekali tidak merespon.

Di dalam restoran, Shelly menanyakan, kabar penting apa yang akan dikatakan oleh Wimpie. Wimpie hanya ketawa. Dengan hati-hati, Wimpie merogoh sakunya lalu mengeluarkan dua butir pil yang terbungkus plastik, "Aku punya dua, mau coba satu?" Shelly menatap tak percaya, "Inex?" tanya Shelly agak berbisik. Wimpie mengangguk. Shelly langsung berdiri dan bergegas keluar dari restoran. Wimpie menatap sambil tertegun.

Sementara itu, di rumah, Tuan Yulio tampak berbeda. Ia menjadi sangat ramah berlebihan. Gembira berlebihan. Nyonya Yulio agak curiga, tapi buru-buru menepisnya. "Lima belas tahun lagi, kita memasuki perayaan Kawin Emas ya, Pap?" tanya Nyonya Yulio. Tuan Yulio dengan enteng menyahut, "Ya, mungkin." Nyonya Yulio menatap suaminya dengan mata tak percaya, lalu berbalik dan masuk ke kamar tidur sambil membanting pintu agak keras. Tuan Yulio hanya terbengong-bengong seperti orang bego.

Di lobi sebuah bioskop, tampak Tugimin dan Tukinem sedang asyik bicara sambil duduk di sofa lingkar. Tukinem asyik cerita soal Nyonya Bos yang belakangan ini suka uring-uringan. Teman-teman arisannya sedang pergi ke luar negeri nengok anak-anaknya yang sekolah di sana. Sementara itu teman-teman Nyonya Bos di fitness centre, juga lagi pada tour ke Bali, ngikutin suaminya masing-masing. Nyonya Bos nggak ada teman ngobrol. Anak-anaknya yang sedang sekolah di Amerika, setiap di telepon, selalu menjawab dengan mesin penjawab, harap meninggalkan pesan, nanti akan dihubungi. Tapi mereka terlalu sibuk dan tak pernah mau menghubungi maminya yang sedang kelimpungan dan kesepian. Tugimin hanya menatap ketangkasan Tukinem bicara; ia membayangkan seperti bosnya, Tuan Yulio saat menatap Shelly bicara. Tugimin hanya manggut-manggut dan jadi pendengar yang baik.

Di dalam bioskop tampak tangan Tugimin dengan pelan-pelan dan takut-takut hendak merangkul bahu Tukinem, tapi dengan tangkas Tukinem memegang tangan Tugimin, lalu berbisik setengah mengancam, "Apa kamu sudah pernah bikin janji? Jangan macem-macem, lho. Aku bisa teriak."
Tugimin salah tingkah.

Sewaktu Tugimin dan Tukinem (naik sepeda motor) sampai di rumah, Tugimin agak kaget melihat Tuan Yulio sedang berdiri di halaman rumah sambil mengenakan kimono. Sesekali Tuan Yulio menatap langit. Mungkin ia berharap di sana ada bulan atau apalah namanya. Saat it memang tidak ada bulan. Hanya ada ratusan, mungkin ribuan bintang di langit.

Begitu Tuan Yulio melihat Tugimin pulang dari nonton, wajahnya yang semula murung berubah cerah. Ia menyuruh Tukinem langsung ke belakang, dan meminta Tugimin menemaninya ngobrol.

Mereka duduk di tempat yang agak remang. Lalu dengan tanpa khawatir akan akibat ucapannya, Tuan Yulio berbisik kepada Tugimin. "Aku merasa aneh, Min. Merasa ada sesuatu yang tak beres dalam diri saya." Dengan pura-pura tenang Tugimin bertanya ada apa sebenarnya? "Aku merasakan sesuatu yang saya rasakan ketika aku remaja dulu. Sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Semua bertumpuk-tumpuk di sini (sambil menunjuk dadanya). Perasaan sakit, tapi juga enak, kangen dan berdebar-debar."

Tugimin benar-benar sulit menebak artinya. Lalu bertanya, "Konkretnya itu apa sih, Pak?"

"Ssst, sepertinya aku sedang jatuh cinta sama Nona Shelly." ujar Tuan Yulio.

Gantian Tugimin kini, yang mendelik sambil berteriak, "Hah!" (Stop motion).

Monday, March 30, 2009

Hole in One Bagian 4

Oleh Odios

PAGI sekali, tampak Tuan Yulio asyik berbincang dengan Shelly, diikuti Tugimin, yang membawa buku catatan, diiringi para caddy (caddies) yang membawa peralatan golf berjalanan di lapangan golf. Di beberapa tempat, dari lapangan yang luas itu, keadaa masih tampak berkabut.

Shelly menjelaskan, bahwa belajar main golf akan efektif jika dilakukan langsung dengan praktik. Tuan Yulio manggut-manggut saja. Pikiran Tuan Yulio saat itu sudah keluyuran ke mana-mana. Sesekali ia melirik ke sasaran-sasaran tertentu dari tubuh Shelly. Berkali-kali Tuan Yulio tampak seolah mengerti apa yang diterangkan Shelly, namun tak satu pun "terminologi" dan teknik-teknik bermain golf, nyangkut di benaknya.

Ketika Shelly menjelaskan nama alat-alat dan kerangka permainan, misalnya dari mengenal tongkat pemukul yang disebut club, dan permainan harus dimulai dengan memukul bola dari tee box menuju green, agar bola secepat mungkin bisa masuk hole, Tuan Yulio justru tertawa-tawa dan tampak agak naif; karena ia menyelewengkan pengertiannya dalam benaknya sendiri.

Tugimin jadi kerepotan setengah mati. Ia dengan cermat mencoba mencatat ucapan dan gerakan-gerakan (flash) Shelly. Shelly juga menjelaskan bahwa jarak dari tee box hingga hole bisa relatif, antara 100 - 600 yard. Dan dalam setiap permainan tidak selalu jumlah hole 18; karema 9 pun juga oke.

Tiba-tiba Tuan Yulio bersorak girang, bahwa 18 maupun 9 sama-sama dia sukai, karena jumlahnya tetap 9. Menurut feng sui, angka itu tergolong hebat.

Saat Tuan Yulio diminta mencoba memukul bola yang sudah disiapkan di atas tee, dengan bersemangat ia mencoba. Jelas gerakannya sangat aneh. Bahkan bole terpukul ke belakang ketika ia menggerak-gerakkan club, dan ia tak menyadari, ketika kedua tangannya terayun dengan kencang, hanya memukul angin. Tapi Tuan Yulio merasa pukulannya berhasil, dan bola melejit demikian jauh hingga tak bisa dilihat lagi. Tuan Yulio jingkrak-jingkrak, tapi Tugimin kesakitan memegang selangkangannya yang terkena ayunan Tuan Yulio.

Pendek kata penampilan Tuan Yulio sangat tidak beres. Belum sampai 15 menit, ia sudah minta break dan langsung meminta Tugimin memesankan minuman untuk mereka berdua -- Tuan Yulio dan Shelly. Sambil minum dan sedikit (pura-pura) menyeka keringat, Tuan Yulio mengatakan lapangan-lapangan yang ada di Jakarta kurang layak untuk tempat latihannya; ia mengusulkan agar bermain golf di Batam atau di Langkawi, Malaysia. Shelly nyaris tersedak. Matanya melotot. Ia tak menduga. Bahkan sangat terkejut.

Tuan Yulio merasa paham. Ia menjanjikan fee tiga kali lipat. Seluruh urusan ke Batam atau Langkawi, menjadi tanggungan Tuan Yulio. Shelly memandang Tuan Yulio dengan perasaan bingung.

Sunday, March 22, 2009

Hole in One Bagian 3

Oleh Odios


DALAM perjalanan pulang dari kantor, telepon genggam Tuan Yulio berdering. Beberapa saat lamanya dia ngobrol dengan seseorang. Usai menutup telepon Tuan Yulio bercerita pada Tugimin, bahwa salah seorang sahabatnya memberi saran agar memakai Shelly sebagai guru privat golfnya. Orangnya cantik, pintar dan guru privat yang sabar.

Tugimin yang memang punya bakat menebarkan wabah optimisme langsung saja menukas, "Saran yang bagus sekali itu, Pak. Bapak memang perlu guru privat yang seperti itu." Tuan Yulio hanya ketawa. Untuk sejenak ia tampak diam dan membayangkan seperti apa Shelly itu. Tanpa sengaja, Tuan Yulio senyum-senyum sendiri.

Di rumah Tuan Yulio, tak sengaja, Tugimin bercerita pada Tukinem soal rencana Pak Bos yang bakal diajar main golf oleh guru privat cantik, seksi, pintar dan sabar. Bagai aliran listrik, omongan itu pun akhirnya mengalir dari mulut Tukinem ke Nyonya Bos. Nyonya Bos pun meradang.

"Lelucon apa sih yang sedang dimainkan di rumah ini?" ujar Nyonya Yulio pada suaminya dengan menahan gejolak di dada. Tuan Yulio hanya senyum-senyum. Setelah didesak dengan setengah paksa, akhirnya Tuan Yulio mengaku, bahwa itu baru saran. Belum tentu ia menyetujui. Lagi pula ketemua calon guru privatnya pun belum.

Nyonya Yulio yang "bijaksana" itu akhirnya hanya memberi dua pilihan. Kalau Tuan Yulio tetap mau memakai Shelly sebagai guru privat, maka ia akan ikut serta dalam latihan. Tapi kalau mau berlatih sendiri, Tuan Yulio harus memakai guru privat yang bukan Shelly. Tuan Yulio mau pikir-pikir dulu.

Esuk paginya dalam perjalanan ke kantor, Tuan Yulio pura-pura memarahi Tugimin yang ceroboh itu. Tugimin menyatakan menyesal setengah mati. Beberapa saat kemudian Tuan Yulio menceriterakan "ancaman" istrinya. Tuan Yulio merasa masih bingung, harus memilih mana. Tugimin berpikir sesaat. Lalu menukas dengan terlonjak, "Ah, itu soal kecil, Pak. Bilang saja ke Ibu, Bapak pilih berlatih sendiri. Soal tidak pakai pelatih Shelly, nggak apa-apa. Kan diam-diam Bapak bisa pesan Shelly, supaya ganti nama atau pakai nama panggilannya waktu kecil. Beres, kan, Pak?"

Tuan Yulio terpana. Ia tak percaya menatap sopir pribadinya yang "badung" dan agak bengal itu, ternyata otaknya cukup encer. "Eh, nggak sangka, otak lo makin encer aja, Min," ujar Tuan Yulio sambil menepuk-nepuk bahu sopirnya. "Iya, dong, Pak. Ini berkat banyak baca majalah dan koran waktu nunggu Bapak rapat."

Di ruang kantor Tuan Yulio. Sekretaris memberitahu lewat intercom ada seorang gadis bernama Ria mau ketemu. Begitu Ria masuk lalu menyalami Tuan Yulio dan memperkenalkan diri sebagai Shelly. Sesaat Tuan Yulio terpana menatap Shelly. Ia mencoba membayangkan hubungan gadis cantik dan seksi itu dengan golf. Tapi Tuan Yulio tak sanggup menyusun visual secara tepat, karena Shelly juga sangat layak menjadi top elit model profesional.

"Jadi...Bapak setuju?" tanya Shelly setelah beberapa saat menunggu.

"Kapan kita latihan?!" sahut Tuan Yulio agak tergagap dan bahkan membuat Shelly kaget sekali. Stop motion!

Contact

Related Blogs

Blog Archive

Categories

Labels

Advertise